Presiden Kita Ini Kayak Koboy, Saya Senang dan Antusias

NAMA I Nyoman Nuarta identik dengan patung. Karya seniman besar asal Bali yang memilih tinggal di Bandung ini sudah beterbaran di banyak tempat. Terbaru, bersama timnya ia tengah merampungkan pembuatan patung Presiden Jokowi tengah mengendarai sepeda motor. Rencananya, patung yang hampir tuntas dikerjakan itu bakal dipasang di Sirkuit Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bagaimana ceritanya Anda bisa membuat patung Presiden Joko Widodo naik sepeda motor? Begini, itu saya mendapat telepon dari Ibu Dirjen PU, beliau memerlukan patung temanya Pak Jokowi pakai motor. Saya antusiasnya begini, jarang jarang Presiden naik motor, yang ada kan naik mobil. Jadi ada semangat juga karena unik Presiden kita ini, kayak koboy juga, jadi saya senang.

Kebetulan, saya juga sudah beberapa kali bikin patung yang naik motor, sekarang kebetulan ada di Beijing, jadi kita hapal bikin buatnya. Cuma, karena ini outdoor, kawasan terbuka di Mandalika, jadi saya harus membuat patung ini agak besar, kurang lebih dua kali dari aslinya. Ban motornya itu segede ban truklah, supaya tercapai tidak ditelan sama lingkungannya yang besar. Tingginya sekitar lima meter dan panjanganya sekitar enam sampai tujuh meter.

Ide patungnya dari siapa? Karena itu lokasinya tempat balap motor, dari Pak Menteri idenya ke sana, Pak Jokowi juga sudah pernah pakai motor muter di sana, saya cocok juga tuh dengan ide itu. Presiden naik motor itu unik banget, saya belum pernah denger tuh. Di Amerika ada, Presiden naik kuda, kalau naik motor kayaknya baru Presiden kita nih. Kita ingin mengerjakannya dengan tulus, mau dipakai atau tidak, itu tidak masalah.

Berapa lama pengerjaannya? Patung ini dikerjakan secara kilat, kebetulan kita menguasai juga teknologinya, biasanya kalau bikin patung segede itu bisa enam bulan, ini kita baru tiga minggu. Ini sudah mendekati finishing, sekarang kita sedang meng esambling komponen komponennya, motor itu kan ada roda, tengki dan lainnya dibuat terpisah pisah dan itu sedang diesembling, hampir semua sudah bisa, sekarang tinggal naik figur Pak Jokowinya.

Nanti kita cek, apakah sudah cukup puas atau belum, karena kita mendapat data buram dari foto, tapi saya tidak memindahkan foto. Jadi, makanya ada angin anginnya. Foto hanya buat peganganlah, orang mengenal ke Pak Jokowi, begitu. Waktunya emang singkat, saya juga bilang kalau nanti kurang bagus, ya sudah jangan dipasang biar aku simpan di museum saja. Sudah berapa persen?

Sekarang sudah 75 persenan, dalam waktu tiga minggu. Sebenarnya karya seni itu bukan cepat cepatan, tapi bagus bagusan. Nah, ini cepat dan bagus, makanya kalau jelek tidak usah dipasang, daripada bikin malu kan. Waktu singkat itu bukan halangan, kita sudah terbiasa kerja maraton seperti ini, jadi yang belum kita hafal ini angkutan ke sana, kalau normal sekitar tiga sampai empat hari, kalau angin besar segala macam kan tidak bisa nyebrang, ini dibawanya lewat jalur darat. Kita punya langganan yang biasa kita pakai untuk pemasangan dan mengangkutnya, tapi tergantung sekali sama cuaca apalagi sekarang banyak badainya. Itu saja kendalanya.

Berapa pekerja yang dilibatkan? Kita kan punya patung yang cukup besar yang harus selesai Maret, itu tingginya 18 meter untuk dibawa ke Jawa dan banyak pekerjaan lain yang harus segera selesai, terpaksa kita hentikan dulu yang lainnya. Patung motor Pak Jokowi ini harus didulukan, kan balap motornya sebentar lagi, patung motor itu harus diperiksa kalau jelek ya sudah turunin aja lagi. Dari segi perwajahannya saya sudah senang melihatnya.

Boleh tahu kapan selesai ini patung ini? Dari sekarang, mungkin satu mingguan lagi. Kita dikasih waktu satu setengah bulan. Nanti setelah selesai pengelasan ini, harus kita cuci dulu dibersihkan dari borax untuk melihat bentuk, sudah memadai belum, kalau belum dilas lagi. Mematung ini memakai api, tidak ada cetak cetakan atau cor coran. Jadi, membentuknya itu pakai api, staf kita yang mengelas, mengolah materialnya harus menguasai semua.

Bahan apa yang digunakan untuk patung ini? Bahan untuk patung motor ini strukturnya menggunakan stainless steel yang anti karat, kemudian kita bungkus dengan kuningan anti karat, karena Mandalika ini posisinya dekat dengan laut, sebentar pasti berkarat. Kemudian bahan patung yang di luarnya itu kuningan supaya dia tahan dengan cuaca, nanti alam akan oksidasi, pewarnaan alami dari alam.

Beda sama baja dan besi, begitu korosi akan terus dimakan hancur, kalau kuningan tidak, kemudian tahan panas. Jadi untuk tahan ratusan bahkan ribuan tahun haruslah pakai bahan itu. Ini sudah pasti tahan, karena kuningan itu bahan aslinya tembaga dicampur dengan timah, sehingga ke luar warna kuning seperti emas. Nanti akan ditempatkan di mana?

Rencananya akan dipasang di gerbangnya, di pintu masuk ke sirkuit itu. Jadi di gerbangnya itu, satu tulisan Mandalika kalau tidak salah, satu lagi patung ini. Apakah ada nama khusus untuk patung ini? Namanya belum ada, nanti dipikir dulu. Barangkali Pak Jokowi mau ngasih namanya.

Apa proyek selanjutnya? Saya ini sebenarnya lebih banyak mengerjakan proyek kita sendiri, kita punya tempat atau menyewa tempat untuk dikerjakan di situ. Sederhana saja, itu patung kuda di Jakarta masih tanggung jawab kita bukan punya DKI, jangan salah. Jadi dulu idenya, daripada iklan bilboard gede gede di Jakarta itu, saya bilang kenapa tidak bikin sesuatu, mereka (perusahaan) suruh bayarin kasih saya haknya.

Dulu kita berpikir akan dibantu pemerintah DKI, ternyata tidak. Kemudian saya ngobrol sama Bank Swasta, dia mau logonya ditempel di patung itu, kecil saja tidak ramai ada keindahannya, kalau bilboard kan menghalangi, belum lagi kena angin ada yang roboh. Gubernur akhirnya setuju, dan Presiden setuju. Jadi, proyek kita lebih banyak sendiri atau kerja sama dengan perusahaan lain untuk proyek pariwisata.(*)

Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.